Thursday, 10 November 2016

Kisah Tragis Meninggalnya Photographer Fenomenal Kevin Carter

Hai Sahabat Blogger. Mungkin Sahabat sekalian masih ada yang bertanya siapa kah Kevin Carter ?? 

Kenapa kisah hidupnya begitu banyak dibicarakan oleh orang-orang seantero dunia. seorang photographer yang sangat tinggi jiwa sosial nya meninggal secara tragis dengan bunuh diri, banyak beranggapan kevin carter bunuh diri akibat penyesalan nya membiarkan seorang bocah kelaparan di afrika di mangsa oleh burung elang pemakan bangkai...??? padahal dari hasil karya photonya itu dia mampu meraih penghargaan hadiah Pulitzer tahun 1994. Sangat aneh dan membingungkan memang ??? 

Namun sebelum penulis menceritakan kronologi sebenar nya, ada baiknya jika kita mengenal sosok kevin carter dari biografi nya ini;

Kevin Carter (lahir 13 September 1960 – meninggal 27 Juli 1994 pada umur 33 tahun) adalah seorang wartawan foto afrika selatan pemenang penghargaan Fotograpi Pulitzer Prize 1994 untuk foto seorang anak dan Burung Bangkai di Sudan pada tahun 1994. Dia Bunuh Diri dua bulan setelah memenangkan penghargaan tersebut di dalam truk di tebing sungai Braamfonteinspuit, Johannes Burg Afrika Selatan Bersama dengan Greg MArinovich, Ken OesterBroek, dan Joao S, mereka dijuluki Bang-Bang Club

Kevin Carter lahir di Johannesburg Afrika Selatan, Kevin Carter tumbuh dilingkungan komunitas kelas menengah yang berisi orang-orang kulit putih saja. Sebagai anak kecil, ia sering melihat operasi polisi menangkap orang kulit hitam yang secara ilegal tinggal di area tersebut. Ia lalu bercerita pada orangtuanya yang beragama Katolik dan berpemikiran Liberal. Orangtuanya adalah tipikal komunitas yang kurang peduli pada gerakan melawan apartheid.

Setelah lulus dari sekolah menengah, ia bekerja sebagai apoteker dan direkrut oleh Angkatan Darat. Namun, ia masuk ke Angkatan Udara, dimana ia berdinas selama empat tahun. Pada 1980, ia melihat seorang pelayan kulit hitam di sebuah kafe dipukuli. Carter membela pelayan tersebut namun prajurit lain malah memukulinya. Ia lalu pergi ke AWOL, memulai hidup baru sebagai Disc Jockey bernama "David". Namun, hidupnya menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Ia secara terpaksa kembali menjalani masa dinasnya di kemiliteran. Setelah melihat Pengeboman Gereja di Pretoria pada 1983, ia memutuskan menjadi Jurnalis Foto.

Carter memulai kerja sebagai fotografer olahraga di 1983. Pada 1984, ia pindah kerja di Johannesburg Star, yang bertugas mengekspos kebrutalan pada masa apartheid.
Carter adalah fotografer pertama yang mengabadikan hukuman bakar bagi orang kulit hitam pada pertengahan dekade 1980-an. Carter lalu berbicara mengenai fotonya itu: "Saya terkejut dengan apa yang mereka lakukan. Saya terkejut atas apa yang saya lakukan. Namun kemudian orang-orang mulai membicarakan foto itu... dan saya merasa mungkin apa yang saya lakukan tidak sepenuhnya buruk. Menjadi saksi sesuatuyang mengerikan ini ternyata bukan sesuatu yang cukup buruk untuk dilakukan.



Foto Fenomenal Kevin Carter
Terungkapnya kisah dibalik foto bocah Sudan, Africa yang kelaparan sebagai foto peraih Hadiah Pulitzer.

Sampai saat ini, rumor tentang foto karya Kevin Carter (Afrika Selatan) yang ada di diatas ini masih simpang siur. Foto peraih Hadiah Pulitzer tahun 1994 yang menampilkan seorang anak kecil kurus kering dengan latar belakang seekor burung pemakan bangkai ini hampir selalu dikaitkan dengan peristiwa bunuh diri yang dilakukan pemotretnya.
Rumor yang beredar mengatakan, Carter bunuh diri karena menyesal tidak menolong anak itu, tetapi malah memotretnya, bahkan lalu meraih hadiah jurnalistik bergengsi.
Rumor yang tak jelas benar asal-usulnya ini bertutur lebih jauh, Carter menulis di buku hariannya seusai memotret foto itu, ”Ya Tuhan, aku tidak akan menyia-nyiakan makanan lagi walau rasanya setidak enak apa pun.” Di situs BBC, jelas-jelas ada bantahan bahwa kalimat itu tidak pernah ditulis atau diucapkan Carter di mana pun.
Dari penelusuran ke berbagai sumber, didapat kesimpulan bahwa Carter tak mungkin bunuh diri karena foto itu. Carter tahu benar bahwa anak itu tidak dalam bahaya sama sekali.

Foto itu dibuat bukan di tempat terpencil, melainkan di sebuah acara pembagian makanan. Bahkan, Carter berlutut sekitar 20 menit di depan anak itu. Ia memotret beberapa kali sampai tiba-tiba seekor burung pemakan bangkai hinggap sebagai latar belakang. Carter juga sempat menunggu agar sang burung pemakan bangkai mengembangkan sayapnya untuk mendapatkan foto yang lebih dramatis. Selain itu, orangtua atau kerabat si anak juga berdiri tak jauh dari situ, sibuk meraih pembagian makanan. Seusai memotret, Carter juga sempat mengusir sang burung pemakan bangkai.

Berikut dibawah ini cerita yang disampaikan Joao Silva yang bersama Carter berada di tempat pemotretan, seperti dituturkan kepada penulis Jepang, Akio Fujiwara, dan dimuat dalam buku berjudul The Boy who Became a Postcard (terbitan Ehagakini Sareta Shonen).

Saat itu, tanggal 11 Maret 1993, Carter dan Silva mendarat di bagian utara Sudan untuk meliput kelaparan parah yang sedang terjadi di sana. Mereka berdua turun dari pesawat PBB yang memang akan menurunkan bantuan pangan. Tim kesehatan PBB memberi tahu keduanya bahwa mereka akan tinggal landas lagi 30 menit kemudian.
Dalam 30 menit itu, tim PBB memang membagi-bagikan makanan. Carter dan Silva cukup terkesima melihat orang-orang kelaparan yang berebut makanan pembagian. Anak yang dipotret Carter pun dipotret Silva walau tidak dipublikasikan. Menurut Silva, Carter memotret dari jarak sekitar 10 meter dan di belakang Carter adalah suasana orang ramai berebut makanan.
Satu yang penting dari kejadian itu adalah seusai memotret, Carter duduk di bawah pohon dan tampak tertekan.
”Dia berkata rindu dan ingin memeluk Megan, putrinya,” kata Silva.
Carter memang punya seorang anak perempuan bernama Megan, kelahiran 1977, di luar nikah dengan Kathy Davidson, seorang guru sekolah.
Pada waktu bunuh diri pun, surat yang ditinggalkan Carter berisi tulisan sebagai berikut:

 ”I am depressed … without phone … money for rent … money for child support … money for debts … money!!! … I am haunted by the vivid memories of killings and corpses and anger and pain … of starving or wounded children, of trigger-happy madmen, often police, of killer executioners…I have gone to join Ken if I am that lucky…

Yang artinya kurang lebih = "Aku depresi ... tanpa telepon ... uang untuk menyewa ... uang untuk mendukung anak ... uang ... uang utang! ... Saya dihantui oleh kenangan hidup tentang pembunuhan dan mayat-mayat dan kemarahan dan rasa sakit ... kelaparan atau anak-anak terluka, orang-orang gila memicu-senang, sering polisi, dari algojo pembunuh ... Aku pergi untuk bergabung dengan Ken jika saya yang beruntung".

Carter bunuh diri 27 Juli 1994 beberapa pekan setelah meraih Hadiah Pulitzer dengan cara menutup diri di dalam mobil pickup-nya, lalu mengalirkan gas knalpot ke dalam. Ia bunuh diri karena depresi pada kenyataan hidup yang kejam dan keras. Carter juga menangisi kematian sahabatnya, Ken Oosterbroek, sesama fotografer jurnalistik, yang meninggal saat meliput sebuah kerusuhan.

Pembela kebenaran

Sebenarnya Carter yang lahir 13 September 1960 di Johannesburg, Afrika Selatan, berjiwa pembela kebenaran sejak kecil.
Ibunya, Roma Carter, bercerita bahwa Kevin kecil sering meradang kalau melihat seorang polisi kulit putih memperlakukan orang kulit hitam dengan kejam. ”Kevin berteriak kepada ayahnya agar menghentikan ulah polisi itu,” kata Roma.
Demikianlah, profesi sebagai fotografer jurnalistik sering membawanya menjadi saksi peristiwa-peristiwa keji, seperti orang yang dibakar hidup-hidup ataupun orang yang dibantai beramai-ramai di tengah keramaian.
Carter tidak tahan hidup menjadi saksi kekejaman. Ia memilih mengakhiri hidupnya.

Pertanyaan penting tentang mengapa foto karyanya penuh dengan rumor, barangkali bisa merujuk pada pendapat Richard Winer, peneliti misteri Segitiga Bermuda.

”Manusia pada dasarnya senang mitos. Walau sudah ada penjelasan ilmiahnya, sebuah mitos atas suatu peristiwa selalu ada,” kata Winer.

Wow Bagaimana sahabat Luar Biasa Pelajaran yang mampu kita petik dari sejarah hidup nya Mr. Kevin Carter, Meski Prestasi sudah didapatkan namun kevin carter tetap tidak mampu melawan rasa depresi nya sehingga memutuskan untuk mengambil jalan. semoga sahabat tidak ada yang berpikiran mengambil jalan pintas seperti kevin carter yah?? tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan semua ada solusi positif nya jadi jangan cepat dan gegabah mengambil tindakan,,?? tetap positif thingking di tengah masalah apapun yang kita hadapi.

Misteri Suku Anasazi yang Hilang

Sekitar 200 M, sebuah peradaban menetap di Amerika Utara di daerah yang sekarang dicakup oleh New Mexico, Colorado, Utah, dan Arizona. Mereka disebut Anasazi, suku Indian prasejarah asli Amerika. Mereka bercocok tanam jagung, labu, dan kacang-kacangan. Mereka menenun keranjang dan tembikar panggang. Mereka adalah suku Indian pertama yang tercatat menggunakan busur dan anak panah. Mereka membangun keajaiban arsitektur besar di sisi pegunungan hingga wilayah mereka ditutupi dengan kota tebing dan peternakan yang luas. Tiba-tiba, sekitar 750 tahun yang lalu, seluruh peradaban mereka menghilang, hanya meninggalkan beberapa tubuh yang di mumi kan, beberapa harta benda duniawi mereka dan misteri ….
Seperti yang dikutip dari versesofuniverse.blogspot.com, Pada tahun 1897 seorang peternak yang mencari sapinya yang telah menyimpang dari kawanan, membuat penemuan mengejutkan: rumah tebing kuno di Colorado. Bangunan-bangunan spektakuler dan artefak-artefak merupakan bukti nyata dari sebuah peradaban maju pernah tinggal di daerah itu dan menghilang. Dalam tahun-tahun berikutnya, penemuan-penemuan lebih besar dibuat, diantaranya penemuan struktur serupa di Utah dan Arizona.
Penemuan-penemuan luar biasa tersebut membuat bingung para peneliti dan sejarawan, bangunan-bangunan yang tidak mereka sangka atau bayangkan ada di wilayah tersebut, ternyata ditemukan, bangunan lima lantai juga ditemukan, hal ini sangat berbeda dengan peradaban dan budaya Indian amerika barat daya lainnya. Salah satu struktur di situs arkeologi, yang kemudian akan disebut Pueblo Bonito, berisi lebih dari 650 kamar.
Pada Chaco Canyon, peneliti menemukan selusin kompleks besar yang mencakup lebih dari 300 struktur berbentuk lingkaran sempurna. Tapi apa tujuan mereka dibangun? Dindingnya ditutupi dengan lukisan-lukisan misterius. Penemuan di Chaco Canyon merupakan temuan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika, para peneliti yakin bahwa tidak ada lagi penemuan di amerika barat daya yang dapat dibandingkan dengan kemegahan dari Chaco Canyon. Arkeolog kagum dengan kekayaan tembikar, senjata, alat-alat, perhiasan; dan setiap potongan karya seni yang ditemukan di sekitarnya.

Pueblo Bonito
Anasazi juga membangun sebuah observatorium astronomi dan menggunakan kalender seremonial untuk merencanakan kehidupan sehari-hari dan ritual mereka. Fenomena lain yang luar biasa adalah sistem jalan yang rumit. Di tempat tinggal mereka, mereka membangun sebuah lubang pusat di lantai, yang mewakili pintu masuk dari bawah (dunia ketiga) ke dunia keempat di Bumi.
Sekitar 20 juta tahun yang lalu, Chaco Canyon adalah pusat dari lautan besar. Setelah laut mundur, satu-satunya hal yang tersisa adalah gurun kering. Tanpa air, unsur utama untuk hidup, bagaimana mungkin peradaban kuno ini telah berkembang di wilayah tersebut? Dan yang paling penting, mengapa mereka membangun kota-kota mereka di wilayah yang tandus seperti itu? Ini hanyalah salah satu dari banyak misteri yang mengganggu yang belum dapat dijawab oleh para arkeolog.
Dinding ngarai adalah sumber utama batu untuk konstruksi mereka, tetapi, dari mana kayu-kayu yang mereka pakai berasal? Menurut arkeolog, pembangunan kota-kota yang luar biasa ini akan membutuhkan lebih dari 250.000 pohon. Jika Anda bepergian ke Chaco Canyon hari ini, Anda akan melihat pemandangan yang benar-benar kering, nyaris tak ada pohon.
Sampel yang diambil dari kayu menunjukkan bahwa material itu berasal bukan dari kawasan itu, beberapa potongan kayu berasal dari jarak lebih dari 50 mil. Untuk proses pemotongan dan ukiran, mereka hanya menggunakan kapak batu. Orang-orang kuno Chaco tidak memiliki gerobak atau kuda untuk mengangkut kayu, jadi bagaimana mereka mengangkut bahan bangunan mereka?
Peradaban Anasazi lebih maju daripada suku-suku Indian lainnya. Gaya Pueblo rumah-rumah mereka tercermin dalam arsitektur modern. Jejak budaya mereka dapat ditemukan dalam budaya suku Hopi, meski itu tidak membuktian bahwa hopi adalah keturunan mereka.
Nama Anasazi sebenarnya adalah nama yang diberikan oleh suku Indian Navajo yang berarti “Orang kuno yang bukan kami atau berbeda dengan kami.”Rumah-rumah mereka yang permanen, kota-kota dan pertanian mereka sangat kontras dengan semua suku-suku lain di barat daya Amerika. Mereka meninggalkan lukisan batu dan ukiran di seluruh wilayahnya. Mereka meninggalkan tembikar dan alat-alat, tetapi tidak ada penjelasan kemana dan mengapa mereka pergi. Ada banyak teori tentang lenyapnya mereka, baik dari kalangan ilmuwan maupun orang awam, dan semua teori masuk ke dalam tiga kategori dasar.
Teori Kekeringan
Sekitar 1.100 M, ada kekeringan besar melanda daerah di mana Anasazi hidup. Kekeringan ini mungkin yang membunuh seluruh penduduk atau memaksa mereka bermigrasi keluar dari wilayah tersebut. Ketika Anasazi bermukim kembali di daerah yang berbeda, mereka mengubah penampilan mereka, seni, budaya mereka, dan agama mereka. Tapi mungkinkah puluhan ribu Anasazi meninggalkan rumah mereka tanpa membawa peralatan bahkan makanan mereka? Temuan terbaru di bidang iklim menunjukkan bahwa kekeringan besar yang melanda wilayah anasazi tidak separah yang ilmuwan percaya sepuluh tahun yang lalu, tentu saja tidak cukup parah untuk mendorong sebuah peradaban meninggalkan rumah-rumah mereka.
Konflik
Suku-suku lain yang berjumlah lebih besar mungkin telah menyerang Anasazi, membunuh seluruh penduduk mereka yang tersebar di beberapa kota. Namun tidak satupun tanda-tanda bekas pertempuran yang cukup besar untuk menghancurkan suatu bangsa. Mungkinkah para penyerbu tidak menjarah dan merusak kota-kota yang mereka taklukkan? Mereka bahkan tidak mengganggu mayat-mayat yang dikuburkan secara damai dalam kota. Terlebih lagi, mungkinkah para penyerbu membawa membawa pergi ribuan mayat prajurit, wanita dan anak-anak suku anasazi yang tewas mereka bunuh? Tidak ada bukti perang yang mendorong kepunahan anasazi yang pernah ditemukan. Kota-kota tidak menunjukkan ada tanda-tanda bekas pengepungan dan makam-makam tidak pernah digali.
Koneksi Alien
Para ilmuwan mengejek penjelasan yang melibatkan makhluk luar angkasa, tetapi itu tidak membuat para pecinta UFO dan alien patah semangat dalam mengajukan teorinya. Menurut mereka Anasazi bukan satu-satunya peradaban kuno yang menghilang tanpa jejak, mereka adalah salah satu dari bangsa yang hilang seperti Maya, dan pembangun Pulau Paskah. Namun bisakah alien menculik seluruh penduduk? Atau mungkinkah Anasazi adalah alien itu sendiri, yang hidup di wilayah itu selama beberapa generasi sebelum mereka kembali ke dunia asal mereka? Menurut para pecinta teori ini, Peradaban anasazi yang maju membuktikan bahwa mereka sangat berbeda dari setiap penghuni lain dari planet ini, dan eksodus misterius mereka dapat menjadi bukti bahwa mereka tidak meninggalkan rumah mereka, melainkan mereka kembali ke rumah (temat asal) mereka.
Alien atau tidak, situs-situs peninggalan anasazi memiliki cukup kesamaan dengan situs-situs kuno lainnya di seluruh dunia (seperti Stonehenge) yang menunjukkan bahwa Anasazi adalah bagian dari budaya kuno global. Sebagai anggota budaya itu, mereka memiliki pengetahuan tentang astronomi dan pemahaman tentang alam semesta. Hilangnya mereka tetap menjadi misteri.
Jadi bagaimana seluruh peradaban bisa lenyap dari muka bumi, meninggalkan bukti budaya mereka tetapi tidak ada penjelasan dari mana mereka atau kemana mereka pergi? Andalah yang menjadi hakim.
Jangan lupa baca juga mengenai peradaban-peradaban kun yang hilang lenyap tak diketahui rimbanya disini
misteri dunia yang hilang misteri suku laut cerita mistis suku laut suku yang misterius di dunia suku suku yang misterius yang baru ditemukan SUKU SUKU DI DUNIA YG HILANG SECARA MISTERI suku misterius di dunia peradaban aneh peninggalan ufo yang sangat misterius 2016 penemuan mengejutkan